Asap Pekat Selimuti Pekanbaru, Diduga Dominan Kiriman dari Sumsel dan Jambi

beritahulubalang.com, PEKANBARU — Kondisi udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali menjadi perhatian. Kabut asap terlihat semakin pekat dalam beberapa hari terakhir, terutama pada 5–7 Oktober 2026.

Berdasarkan informasi dan data yang dihimpun, kondisi tersebut diduga kuat dipengaruhi asap kiriman dari wilayah selatan Sumatera, khususnya Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.

Artinya, pekatnya asap yang menyelimuti Pekanbaru tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam skala besar di wilayah Kota Pekanbaru.

Sumatera Selatan Diduga Menjadi Sumber Dominan

Sumatera Selatan disebut menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas cukup tinggi. Sejumlah wilayah seperti Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin dan Musi Banyuasin menjadi kawasan yang perlu mendapat perhatian.

Data yang disebut bersumber dari pemantauan BMKG dan sistem Sipongi KLHK pada 6 Oktober 2026 mencatat tingginya jumlah hotspot di Sumatera Selatan.

Kepala BPBD Riau M Edy Afrizal sebelumnya menyampaikan bahwa kondisi karhutla di Riau relatif terkendali dan asap yang berada di Pekanbaru diduga merupakan asap kiriman dari provinsi tetangga.

“Riau saat ini sudah nihil karhutla. Asap kiriman, karena di Riau nihil titik api. Sementara di Sumsel banyak dilaporkan titik api,” ujarnya, Senin (5/10/2026).

Jambi Turut Berkontribusi

Selain Sumatera Selatan, wilayah Provinsi Jambi juga disebut menjadi salah satu sumber asap yang terbawa menuju Riau.

Beberapa wilayah yang menjadi perhatian antara lain Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi dan Batanghari.

Kalaksa BPBD Pelalawan Zulfan mengatakan kabut asap yang masuk ke wilayah Riau diduga berasal dari wilayah tetangga.

“Kabut asap kali ini masih kiriman dari wilayah tetangga yakni Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Terbawa angin sampai ke Riau,” katanya.

Bagaimana Asap Bisa Sampai ke Pekanbaru?

Pergerakan asap tersebut tidak terlepas dari kondisi angin. Berdasarkan penjelasan meteorologi, angin dari sektor selatan hingga tenggara dapat membawa massa udara dan asap bergerak menuju wilayah Riau.

Kondisi tersebut menyebabkan asap dari wilayah Sumatera Selatan dan Jambi berpotensi terbawa menuju utara dan barat laut, kemudian menumpuk di sejumlah wilayah Riau, termasuk Pekanbaru.

Citra satelit Himawari-9 juga menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk memantau pergerakan sebaran asap lintas wilayah di Pulau Sumatera.

Pekanbaru Tidak Terdeteksi Sebagai Sumber Utama Hotspot

Sementara itu, kondisi di Kota Pekanbaru sendiri disebut tidak menunjukkan adanya hotspot yang menjadi sumber utama kabut asap saat ini.

Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru Zulhelmi Arifin sebelumnya memastikan tidak terdapat titik api yang menjadi sumber utama di wilayah kota.

“Titik api itu tidak ada di Pekanbaru ini. Jadi angin arahannya masih sama dari selatan menuju ke utara,” ujarnya.

Dengan demikian, kondisi udara buruk yang dirasakan masyarakat Pekanbaru perlu dilihat dalam konteks pergerakan asap lintas wilayah, bukan hanya berdasarkan kondisi di dalam kota.

Dampak Mulai Dirasakan Masyarakat

Pekatnya kabut asap mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Sejumlah laporan menyebut adanya penurunan jarak pandang, gangguan aktivitas penerbangan serta meningkatnya keluhan masyarakat seperti mata perih, batuk dan gangguan pernapasan.

Kondisi kualitas udara yang memburuk juga membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Sejumlah kegiatan belajar mengajar di beberapa daerah Riau juga menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi udara yang tidak sehat.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Masyarakat Pekanbaru diimbau tidak melakukan aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan.

Penggunaan masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel halus, seperti masker N95, dapat menjadi salah satu langkah perlindungan ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Masyarakat juga disarankan menutup celah masuk asap ke dalam rumah, mengurangi ventilasi terbuka ketika konsentrasi asap sedang tinggi, serta menjaga asupan cairan.

Kondisi cuaca dan potensi hujan dalam beberapa hari ke depan diharapkan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel asap di udara.

Namun demikian, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah terkait perkembangan kualitas udara serta kondisi karhutla.

By wimbraja