Cerbung: Salahkah

BAB 1 - GADIS DI JALAN SETAPAK

beritahulubakang.com, Cerbung, BAB 1 – GADIS DI JALAN SETAPAK

“Na… na… na…”

Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun berlari gembira sambil bernyanyi di jalan setapak. Rambutnya panjang sebahu, pirang alami kemerahan karena matahari. Matanya berbinar, hidungnya bangir, kulitnya putih bersih.

Yang paling mencolok adalah baju terusannya. Warna ungu. Selalu ungu. Ungu muda yang sudah sedikit pudar di ujungnya, berkibar tertiup angin.

Jalan setapak di desa terpencil di Kepulauan Jawa itu sepi. Kiri kanannya semak belukar setinggi dada orang dewasa.

Gadis itu bernama Yeni.

Langkahnya yang tadinya ringan mendadak kaku. Bulu kuduknya merinding. Ia merasa ada yang memperhatikannya.

“Kok aku rasa ada yang menguntit aku. Ah, biar sajalah…” gumamnya, lalu mempercepat langkah.

Di ujung jalan setapak itu terlihat rumah megah bercat putih mengilap, milik keluarga Pak Aran. Seperti istana di tengah rumah-rumah papan.

“Alex di rumah tidak, ya…” gumam Yeni sambil tersenyum.

Tanpa canggung, ia menerobos masuk. Gerbang besi itu tidak pernah dikunci. Ia sudah sangat terbiasa main di sana.

“Assalamu’alaikum!” teriaknya di depan pintu kayu jati yang tinggi.

“Wa’alaikumsalam…” jawab suara lembut dari dalam.

_Kriiik…_ Pintu terbuka. Muncul Bu Mirah, perempuan 35 tahun, cantik tetapi pucat.

“Yeni…”

“Ibu! Alex mana, Bu? Janji mau main kelereng hari ini!”

Bu Mirah mengelus rambut pirang Yeni, tetapi matanya menatap cemas ke jalan setapak di belakang Yeni. Wajahnya menegang.

“Yeni… tadi kamu lewat jalan setapak sendirian?”

“Iya, dong, Bu.”

“Mulai besok jangan lewat situ kalau sudah sore, ya?”

“Kenapa, Bu?”

“Alex… sudah tiga hari tidak pulang lewat jalan itu.”

_Krek._ Ranting patah dari semak ujung perkarangan.

Keduanya serentak menoleh.

Muncul Pak Teguh, kakek berambut, berkumis, dan berjanggut putih semua. Orang kepercayaan Pak Aran. Di tangannya ada kantong hitam berisi bunga aneh berkelopak hitam keunguan, Bunga Lencak.

Ia berjalan mendekat, tatapannya terkunci tajam pada baju ungu Yeni.

“Rambut pirang… baju ungu… persis…” gumamnya serak. “Persis seperti dia 20 tahun lalu…”

Yeni merinding dan bersembunyi di balik rok Bu Mirah.

“Eh, Pak Teguh, bikin kaget saja…” ucap Bu Mirah.

Tangan kasar Pak Teguh terulur ingin menyentuh baju ungu Yeni.

“PAK TEGUH!”

Bentakan keras menghentikannya. Pak Aran, pria tinggi besar berkumis tebal, ayah Alex, muncul dari dalam rumah.

“Apa yang kamu lakukan? Siapa suruh petik Bunga Lencak sore-sore begini?” bentak Pak Aran.

“Maaf, Den Aran… maaf…” Pak Teguh langsung menunduk.

Pak Aran menatap istrinya, Yeni, dan Pak Teguh bergantian. “Sudah, semuanya masuk ke dalam sekarang!”

Mereka semua pun masuk ke dalam rumah. Bu Mirah menarik Yeni, Pak Aran berjalan di depan, dan Pak Teguh mengikuti dari belakang sambil menyembunyikan kantong hitamnya.

_BRAK!_ Pintu kayu jati itu ditutup rapat. Rumah megah itu langsung hening.